Kegiatan

Landasan yang diambil untuk pengembangan program MAB Indonesia diadopsi dari hasil pertemuan The MAB International Coordinating Council ke 17 pada bulan Maret 2002. Pertemuan tersebut menyetujui bahwa Jaringan Cagar Biosfer Dunia adalah perangkat utama untuk mengimplemantasikan kegiatan MAB, yang dikelompokkan menjadi dua MLA (Main Line of Action), yaitu MLA 1 mengenai pengelolaan sumberdaya alam dan masalah pembangunan, dan MLA 2 mengenai usaha untuk memajukan dasar ilmiah, pengembangan kapasitas sumberdaya manusia dan komunikasi.

MLA 1 menekankan penggunaan konsep Cagar biosfer : Pendekatan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Biosphere Reserves : Approaches to Sustainable Development). Dalam konsep ini cagar biosfer dipakai sebagai tempat untuk menguji dan membangun cara untuk hidup yang berkelanjutan melalui program terpadu pengelolaan sumberdaya alam dan konservasi keanekaragaman hayati, dengan sasaran untuk memberikan sumbangan kepada upaya pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kondisi kehidupan terutama masyarakat pedesaan. Cagar biosfer ini menyediakan tempat untuk memperagakan pendekatan ekosistem yang disarankan dan sedang dikembangkan oleh CBD, dan merupakan komponen kunci dalam implementasi rencana WSSD (World Summit on Sustainable Development).

MLA 2 dirancang untuk Membantu Mengurangi Kehilangan Keanerakagaman Hayati : Ilmu dan Pembangunan Kapasitas dalam konteks Pemberian Jasa bagi Kelestarian/Keberlanjutan secara Ekologis (Helping Reduce Biodiversity Loss: Science and Capacity Building in the Service of Ecological Sustainability), yang meliputi implementasi rencana WSSD untuk mengurangi kehilangan keanerakagaman hayati pada tahun 2010. Penelitian dan pembangunan kapasitas sumberdaya manusia pada tingkat lembaga dan individu akan merupakan kontribusi kunci untuk mencapai tujuan tersebut. Pengamanan partisipasi masyarakat lokal untuk melestarikan dan mengelola ekosistem serta menjamin pemeliharaan ekologi yang baik masih merupakan doktrin MAB. Perhatian yang khusus dalam konteks ini ditujukan ke lahan basah (Wetland) dan sistem pesisir.

Dengan demikian rencana kegiatan Panitia Nasional MAB Indonesia harus mengacu kepada Program MAB Internasional dan Strategi Seville serta mengkontekstualkan dengan keadaan dan kondisi Indonesia. Kebijakan otonomi daerah juga perlu diperhatikan karena pada akhirnya manfaat yang dihasilkan tentulah demi sebesar-besar kemakmuran masyarakat sekitar dan daerah dimana cagar biosfer tersebut berada. Garis besar kegiatan dan prioritasnya selama lima tahun dapat dilihat pada tabel "Rencana dan Prioritas Program Kegiatan MAB Indonesia Tahun 2003 2007".


<< Kembali
Home|Tentang Kami|Cagar Biosfer| Kegiatan|Publikasi|Galeri |Download |Buku Tamu|Login

Link :   
Anda adalah pengunjung ke :  1437
PHP Warning: getimagesize(./images/foto_berita/admin-0001.octet-stream) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in F:\Program Files\Ensim\WEBppliance\SiteData\Domains\mab-indonesia.org\ROOT\Inetpub\wwwroot\functions\berita.inc.php on line 27